Sejarah Batak: Islam di Silindung di Abad Pertengahan

Share:
Sejarah perkembanhan Islam di kalangan Batak Toba khususnya di Silindung, sekarang di Tapanuli Utara, menyimpan kisah panjang yang berlapis antara tradisi, struktur kekuasaan lokal, dan pengaruh keagamaan. Salah satu narasi yang sering muncul adalah peran empat pemimpin yang dikenal sebagai Raja Na Ompat dalam dinamika Islam di kawasan ini.

Raja Na Ompat merujuk pada empat pemimpin lokal yang memiliki kedudukan penting di wilayah Silindung. Dalam versi yang banyak beredar, mereka adalah Orang Kaya Tua, Bagot Sinta, Orang Kaya Lela Muda, dan Baginda Maulana. Keempatnya berfungsi sebagai raja bawahan yang tunduk kepada kekuasaan tertinggi Sisingamangaraja yang menurut kronik Barus merupakan anak dari Tuan Ibrahimsyah.

Kedudukan Sisingamangaraja sebagai raja sakral dan disebut sebagai 'Khalifah Batak' dalam Hikayat Meukuta Alam di Aceh, membuat semua raja bawahan, termasuk Raja Na Ompat, berada dalam struktur hierarkis yang jelas. Kondisi ini berlangsung sejak Sisingamangaraja I hingga beberapa keturunnya yang berakhir oada 1907.
Dalam konteks ini, kehadiran tokoh-tokoh Raja Na Ompat sering dikaitkan dengan kebangkitan Islam di kawasan Tapanuli Utara. Islam telah lama hadir melalui jaringan kekerabatan, perdagangan, dan pengaruh budaya lintas wilayah melalui Barus Titik Nol Islam sebuah wilayah di Kabupaten Tapanuli Tengah, tetangga Taput. Dulu, Barus dikenal dengan nama Fansur terkait Pancur atau Pansur. Di Tapanuli sampai sekarang masih banyak nama daerah diawaloli kata Pansur.

Dalam sebuah tarombo disebut Raja Lela Muda mempunyai keturunan bermarga Hutauruk dan memiliki hubungan kekerabatan dengan marga Marbun. Hal ini menunjukkan tradisi Islam terus menjelma dalam struktur marga Batak.

Raja Da Mulana atau Baginda Maulana mempunyai keturunan bermarga Hutabarat. Nama Mulana sendiri sering ditafsirkan sebagai gelar yang memiliki nuansa Islam, mengindikasikan posisinya yang terhormat.

Sementara itu, keturunan Raja Bagot Sinta menjadi marga Sitompul. Nama Bagot Sinta muncul berulang dalam tradisi lisan sebagai tokoh yang memiliki posisi strategis dalam hubungan antara penguasa Batak dan dunia luar.

Keturunan Raja Tua, yang dalam versi lain disebut sebagai Orang Kaya Tua, dikenal bermarga Hutapea. Sebagai figur senior, posisinya diyakini berperan dalam menjaga keseimbangan adat dan penerimaan pengaruh baru, termasuk Islam.

Menariknya, terdapat pula tarombo lain yang mengaitkan Baginda Mulana dan Bagot Sinta dengan marga Simatupang. Hal ini memperlihatkan adanya variasi tradisi dan ingatan kolektif yang berbeda antar komunitas Batak.


Nama Simatupang sendiri memiliki keterkaitan linguistik yang menarik. Dalam beberapa catatan, Dasopang dari kelompok Hasibuan dan Simatupang (Matopang) disebut memiliki akar kata yang sama, yakni Topang. Persamaan ini menunjukkan hubungan budaya dan bahasa lintas wilayah.

Di Minangkabau, dikenal pula suku bernama Pitopang. Kemiripan nama ini menguatkan dugaan adanya jalur interaksi panjang antara Batak Toba, Mandailing, dan Minangkabau, terutama melalui jalur perdagangan dan penyebaran Islam.

Islam di Negeri Toba dengan demikian tidak dapat dipahami secara tunggal. Ia berkembang melalui simpul-simpul kekuasaan lokal seperti Raja Na Ompat, tanpa menggantikan sepenuhnya struktur adat yang sudah mapan.

Para raja ini tetap berada di bawah otoritas Si Singamangaraja, yang dikenal senagai perwakilan Aceh di tanah Batak.

Sumber-sumber lokal dan tulisan populer menunjukkan bahwa Islam di Toba lebih dahulu hadir sebagai identitas kultural sebelum menjadi praktik keagamaan yang mapan. Jejaknya terlihat dalam nama, gelar, dan jaringan sosial para elite lokal.
Kisah Raja Na Ompat juga memperlihatkan bahwa sejarah Batak tidak bersifat tertutup. Wilayah Toba terhubung dengan dunia luar, baik dari pesisir barat Sumatra maupun dari jalur timur melalui Mandailing.

Perbedaan versi mengenai marga dan tokoh menunjukkan bahwa sejarah ini hidup dalam tradisi lisan. Variasi tersebut justru memperkaya pemahaman tentang bagaimana masyarakat Batak memaknai masa lalunya.

Dalam perspektif sejarah, Raja Na Ompat dapat dilihat sebagai jembatan antara dunia Batak Toba yang sakral dan dunia Islam yang kosmopolitan. Mereka menjadi penghubung, bukan pemutus.

Hingga kini, perdebatan mengenai siapa sebenarnya para raja ini dan marga apa yang disandang keturunannya masih terus berlangsung. Hal ini menandakan bahwa sejarah Islam di Negeri Toba tetap menjadi medan kajian yang terbuka.

Jejak mereka, baik dalam adat, marga, maupun ingatan kolektif, menunjukkan bahwa Islam merupakan bagian dari sejarah panjang Tapanuli, yang tumbuh berdampingan dengan adat dan kekuasaan Sisingamangaraja.

Tidak ada komentar