Banjir besar yang melanda wilayah pedesaan Idlib dan Latakia meninggalkan duka mendalam bagi ribuan warga. Malam yang berat dirasakan masyarakat setempat akibat hujan deras dan aliran air yang merusak permukiman serta fasilitas dasar.
Gubernur Aleppo, insinyur Azzam Al-Gharib, menyampaikan bahwa situasi ini menambah beban tanggung jawab pemerintah daerah dan pusat. Ia menegaskan bahwa penderitaan warga tidak akan dibiarkan berlarut tanpa penanganan serius.
Menurut Al-Gharib, seluruh upaya pemerintah dan masyarakat kini disatukan untuk mengurangi dampak bencana. Koordinasi lintas lembaga ditekankan sebagai kunci utama dalam menghadapi krisis kemanusiaan ini.
Sebagai langkah awal, Gubernur Aleppo menginstruksikan Komite Respons Darurat untuk segera menyiapkan lokasi hunian sementara di wilayah Aleppo. Hunian ini dirancang untuk menampung warga terdampak dari pedesaan Idlib.
Tim respons darurat telah dikerahkan langsung ke lokasi terdampak. Kehadiran tim ini bertujuan melakukan pendataan, penilaian kerusakan, serta koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Idlib.
Proses pemindahan warga menjadi prioritas utama, terutama bagi keluarga yang masih bertahan di tenda-tenda darurat. Pemerintah berupaya menyediakan tempat tinggal yang lebih aman dan layak.
Dalam pernyataannya, Al-Gharib juga menyerukan solidaritas nasional. Ia mengajak para gubernur di wilayah lain untuk mendukung warga dari daerah masing-masing yang terdampak bencana.
Dukungan tersebut diharapkan berupa penyediaan rumah alternatif, bukan sekadar tenda. Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi beban psikologis dan fisik warga yang telah kehilangan tempat tinggal.
Al-Gharib menegaskan komitmen pemerintah untuk tidak meninggalkan para korban. Ia menekankan bahwa upaya penghapusan seluruh permukiman tenda akan terus dilanjutkan sesuai janji pemerintah.
Pernyataan tersebut disambut dengan respons dari Kementerian Pertahanan. Melalui Direktorat Media dan Komunikasi, kementerian menyatakan kesiapan penuh dalam membantu penanganan bencana alam.
Atas arahan langsung Menteri Pertahanan, Mayor Jenderal Insinyur Murhaf Abu Qasra, sejumlah badan dan unit telah disiagakan. Status kesiapsiagaan khusus diberlakukan untuk mendukung kementerian lain.
Langkah ini mencakup pengerahan personel, logistik, serta peralatan teknis untuk menghadapi dampak banjir. Sinergi antarinstansi diharapkan mempercepat proses bantuan di lapangan.
Kementerian Pertahanan menegaskan akan memberikan segala bentuk dukungan yang diperlukan. Bantuan difokuskan pada wilayah pedesaan Idlib dan Latakia yang terdampak paling parah.
Banjir tersebut menyebabkan kerusakan signifikan pada rumah warga, lahan pertanian, dan infrastruktur dasar. Kondisi ini memperparah situasi kemanusiaan yang sudah rapuh akibat konflik berkepanjangan.
Banyak keluarga terpaksa mengungsi dalam kondisi darurat, dengan akses terbatas terhadap air bersih dan layanan kesehatan. Risiko penyakit dan krisis kesehatan pun meningkat.
Pemerintah menyadari bahwa penanganan banjir tidak hanya bersifat darurat, tetapi juga membutuhkan solusi jangka menengah. Penyediaan hunian permanen menjadi salah satu agenda utama.
Koordinasi antara Aleppo, Idlib, dan Latakia dipandang krusial untuk memastikan distribusi bantuan berjalan merata. Pemerintah berupaya menghindari tumpang tindih dan keterlambatan.
Respons terpadu ini juga mencerminkan upaya membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara. Kehadiran pemerintah di lapangan menjadi sinyal penting bagi warga terdampak.
Meski tantangan masih besar, pemerintah menyatakan optimisme bahwa krisis ini dapat diatasi bersama. Kerja sama antara negara dan masyarakat sipil terus diperkuat.
Di tengah duka dan kerusakan, pesan utama yang disampaikan pemerintah tetap sama. Warga terdampak banjir diyakinkan bahwa mereka tidak sendirian dan akan terus didampingi hingga kondisi kembali pulih.


Tidak ada komentar
Posting Komentar