Bangsa Achin atau Aceh sekarang, yang mendiami pesisir barat Sumatra, memiliki warna kulit khas akibat percampuran luas dengan penduduk asli India daratan. Meskipun bahasa umumnya Melayu, bahasa mereka menunjukkan kekhasan tersendiri yang membedakan dengan komunitas lain di nusantara.
Menurut para penulis luar, masyarakat Achin memelihara hewan seperti gajah, kerbau, sapi, dan kambing. Beberapa domba di daerah ini dibawa dari India, tercermin dalam istilah Sanskerta mereka, “biri”. Unggas terbatas pada ayam biasa dan bebek, sementara buah-buahan yang lazim di Malaya barat dibudidayakan secara melimpah.
Namun, kesuburan tanah di Achin masih menjadi masalah terutama untuk produksi jagung, sehingga biji-bijian ini selalu diimpor. Catatan penjelajah Dampier pada 1688 menjadi sumber informasi paling lengkap mengenai kondisi pertanian dan perdagangan di wilayah ini.
Dampier mencatat bahwa orang Achin baru-baru ini meniru teknik pertanian India, menanam padi meski sebagian besar kebutuhan pangan tetap berasal dari impor. Harga biji-bijian yang fluktuatif menunjukkan kondisi tanah yang kurang subur dan perdagangan yang masih sederhana.
Populasi Achin diperkirakan tidak lebih dari 45.200 jiwa, dengan kepadatan penduduk sekitar 20 orang per mil persegi. Wilayah ini menjadi jembatan strategis antara Kepulauan Malaya dan benua India, sehingga memengaruhi sejarah perdagangan dan politik regional.
Geografi Achin memungkinkan pulau ini menjadi pasar utama bagi bangsa maritim Hindustan, yang memperoleh rempah-rempah, emas, timah, dan komoditas lain dari wilayah ini. Sebagai imbalan, para pedagang India membawa kain katun dan garam ke kepulauan Sumatra.
Perdagangan semacam itu telah berlangsung sejak kedatangan Portugis di perairan kepulauan, dan meskipun volumenya menurun, hubungan ekonomi ini tetap bertahan. Bangsa Achin sendiri memeluk Islam pada tahun 1204 Masehi, salah satu konversi paling awal di kalangan bangsa Melayu.
Bangsa Arab dan Persia, bersama pedagang Islam dari Hindustan, telah berdagang dengan Achin dan kepulauan sekitarnya jauh sebelum kedatangan Portugis. Interaksi ini membentuk dasar ekonomi dan sosial masyarakat Achin.
Pada masa kedatangan Portugis, Achin merupakan bawahan kerajaan Melayu Pedir. De Barros mencatatnya sebagai salah satu dari 29 kerajaan kecil di pantai Sumatra, tidak termasuk kerajaan pedalaman.
Kebangkitan Achin menjadi pusat perdagangan utama menunjukkan bagaimana negara kecil dapat menonjol secara komersial berkat kepemimpinan yang visioner dan jaringan perdagangan yang luas.
Raja Pedir menunjuk seorang budak kesayangannya sebagai penguasa Achin, kemudian menggantikannya dengan putranya. Putra budak ini menunjukkan bakat luar biasa dan ambisi yang kuat, mendirikan negara Achin seperti yang dikenal pada abad ke-16 dan ke-17.
Penguasa ini mengambil gelar Saleh Udin, setara dengan Saladin dalam sejarah Perang Salib, memerintah mulai 1521, sepuluh tahun setelah penaklukan Malaka oleh Portugis.
Dalam delapan belas tahun pemerintahannya, ia menaklukkan Pedir dan negara tetangga, menjadikan Achin pusat perdagangan barat Kepulauan Melayu dan membangun kekayaan serta kekuasaan yang signifikan.
Puncak kejayaan dicapai pada masa pemerintahan Sekander Muda, seorang pangeran yang mengadopsi gelar setengah Arab dan setengah Melayu, yang berarti “Alexander Muda.” Ia naik tahta pada 1606 dan memerintah hingga 1641.
Sekander Muda bekerja sama dengan Belanda dalam penaklukan Malaka, meski ekspedisi mahal yang dilancarkan sebelumnya gagal menghadapi Portugis. Keberhasilan ini menegaskan kekuatan maritim dan strategi politik Achin pada masa itu.
Faria-y-Souza mencatat armada Achin terdiri dari 500 kapal layar, dengan 100 lebih besar dari kapal Eropa kontemporer. Jumlah prajurit dan pelaut mencapai 60.000 orang, dipimpin langsung oleh raja.
Ekspedisi besar Achin, termasuk upaya menaklukkan Malaka, menghadapi perlawanan Portugis yang menimbulkan kerugian besar: 50 kapal hilang dan 20.000 prajurit tewas dalam pertempuran yang berlangsung dari pagi hingga tengah malam.
Meski kalah dalam beberapa ekspedisi, pihak Portugis sendiri masih lemah karena persenjataan sederhana mereka. Armada Achin tetap menunjukkan kemampuan maritim luar biasa yang menandai kejayaan bangsa Melayu di kawasan ini.
Sejarah Achin menjadi contoh bagaimana kepemimpinan visioner, perdagangan internasional, dan kekuatan maritim dapat membuat negara kecil menjadi pusat ekonomi dan politik regional.
Warisan Achin tetap terlihat melalui budaya, perdagangan, dan pengaruh Islam yang lebih awal daripada banyak bangsa Melayu lainnya, menjadikannya bagian penting dalam sejarah Sumatra dan Kepulauan Melayu secara keseluruhan.
Baca selanjutnya


Tidak ada komentar
Posting Komentar