Harar, Simpul Identitas Tanduk Afrika

Share:
Kota Harar kembali menjadi perbincangan publik di kawasan Tanduk Afrika karena posisinya yang unik dalam sejarah, identitas, dan politik regional. Kota tua ini kerap diklaim secara naratif oleh berbagai kelompok, terutama Somali dan Oromo, meskipun secara administratif berada di Ethiopia.

Dalam ingatan sejarah Islam Afrika Timur, Harar dikenal sebagai pusat peradaban Kesultanan Adal. Dari kota inilah jaringan ulama, perdagangan, dan kekuatan militer Islam berkembang dan terhubung erat dengan pesisir Somali seperti Zeila dan Berbera.

Bagi banyak kalangan Somali, Harar lebih dari sekadar kota. Ia dipandang sebagai simbol kejayaan politik dan keagamaan masa lalu, terutama karena keterkaitannya dengan tokoh Ahmed Gurey, yang masih hidup dalam memori kolektif sebagai pemimpin besar Adal.

Namun di sisi lain, realitas politik modern menempatkan Harar sebagai bagian tak terpisahkan dari negara Ethiopia. Kota ini merupakan ibu kota Region Harari dan secara geografis dikelilingi oleh wilayah Oromia, menjadikannya bagian dari orbit politik Addis Ababa.

Perubahan demografi selama abad ke-20 memperkuat posisi Oromia di sekitar Harar. Migrasi dan dinamika ekonomi membuat populasi Oromo menjadi mayoritas di wilayah sekitar, meski bukan di dalam inti kota tua Harar Jugol.

Di tengah tarik-menarik identitas ini, terdapat kelompok yang sering luput dari sorotan besar, yakni masyarakat Harari sendiri. Mereka adalah penduduk asli kota, dengan bahasa, adat, dan tradisi urban Islam yang khas.

Identitas Harari tidak sepenuhnya melebur ke dalam Somali maupun Oromo. Justru sebaliknya, identitas inilah yang selama berabad-abad menjadi jembatan antara dunia pesisir Somali dan pedalaman Ethiopia.

Secara historis, pedagang Harari berperan sebagai penghubung jalur dagang antara kawasan Somali dengan dataran tinggi Ethiopia. Mereka memperantarai komoditas, budaya, dan pengetahuan lintas etnis dan wilayah.

Dalam aspek keagamaan, ulama Harari memainkan peran penting dalam menyebarkan Islam ke berbagai komunitas, termasuk Somali dan Oromo. Masjid, madrasah, dan tarekat di Harar menjadi ruang pertemuan lintas identitas.

Bahasa Harari sendiri mencerminkan posisi perantara tersebut. Ia berkembang dengan pengaruh kuat Arab, Somali, dan bahasa-bahasa lokal Ethiopia, menunjukkan interaksi panjang antar komunitas.

Hubungan antara Harari dan Somali terbentuk melalui kesamaan tradisi Islam dan jaringan Adal. Sementara hubungan Harari dan Oromo tumbuh melalui kedekatan geografis dan interaksi sehari-hari selama berabad-abad.

Pada masa Ethiopia modern, Harari sering berperan sebagai faktor penyeimbang. Status mereka sebagai kelompok kecil namun simbolis membuat negara Ethiopia berusaha melindungi Harar sebagai kota warisan dan pusat toleransi.

Pemerintah Ethiopia mempromosikan Harar sebagai kota multikultural dan situs warisan dunia. Pendekatan ini bertujuan meredam klaim eksklusif satu kelompok atas kota tersebut.

Meski demikian, narasi romantik tentang Harar sebagai “ibu kota Islam Tanduk Afrika” tetap hidup, terutama di kalangan tertentu di Somalia. Narasi ini lebih bersifat emosional dan historis ketimbang tuntutan politik resmi.

Di sisi Oromo, Harar dipandang sebagai bagian alami dari wilayah mereka, baik karena kedekatan geografis maupun hubungan ekonomi yang semakin intens.

Ketegangan narasi ini menjadikan Harar simbol pertemuan antara sejarah dan realitas. Ia tidak sepenuhnya bisa diklaim satu pihak tanpa mengabaikan lapisan identitas lainnya.

Peran Harari sebagai komunitas inti kota membuat mereka menjadi kunci stabilitas. Selama Harari mempertahankan posisi moderat dan inklusif, Harar cenderung tetap stabil di tengah tekanan identitas regional.

Banyak pengamat menilai Harar justru menunjukkan kemungkinan koeksistensi. Kota ini membuktikan bahwa Somali dan Oromo dapat terhubung melalui satu identitas urban yang lebih tua dan lebih lentur.

Dalam konteks ini, Harari bukan sekadar etnis kecil, melainkan perekat sejarah antara dua dunia besar di Tanduk Afrika. Mereka menyatukan jalur laut dan darat, pesisir dan pedalaman.

Ke depan, masa depan Harar sangat bergantung pada kemampuan semua pihak menjaga keseimbangan ini. Klaim sepihak berpotensi mengganggu stabilitas kota yang rapuh secara demografis.

Dengan sejarahnya yang panjang dan kompleks, Harar tetap berdiri sebagai simpul identitas, bukan milik satu etnis, melainkan warisan bersama yang menyatukan Somali, Oromo, dan Harari dalam satu ruang peradaban.

Tidak ada komentar